Saturday, May 12, 2012

PERSALINAN DAN ASUHAN PERSALINAN NORMAL


BERSALIN DAN APN

Definisi
Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu (Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad, 1983)
B.     Tanda-tanda Persalinan
Menurut Manuaba, (2002), tanda-tanda  persalinan adalah sebagai berikut :
1.       Kekuatan his makin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi yang semaikn pendek
2.       Dapat terjadi pengeluaran pembawa tanda, yaitu :
a.       Pengeluaran lendir
b.       Lendir bercampur darah
3.       Dapat disertai ketuban pecah
4.       Pada pemeriksaan dalam , dijumpai perubahan servik
a.     Perlunakan serviks
b.     Pendataran serviks
c.     Terjadi pembukaan serviks
C.     Etiologi Persalinan
Menurut bagian Obsteri dan Ginekologi FK UNPAD, (1983) ada banyak faktor yang memegang peranan dan bekerjasama sehingga terjadi persalinan, antara lain :
1.     Penurunan kadar progesterone
Progesterone menimbulakan relaksi otot-otot rahim. Sebaliknya estrogen meninggikan kerentanan otot rahim. Selama kehamilan terhadap keseimbangan antara kadar progesterone dan estrogen di dalam darah, tetapi pada akhir kehamilan kadar progesterone menurun, sehingga timbul his.
2.     Teori oxytosin
Pada akhir kehamilan kadar oxytosin bertambah. Oleh karena itu, timbul kontraksi otot-otot rahim.
3.     Keregangan otot-otot
Seperti halnya dengan kandung kencing dan lambung, bila dindingnya teregang oleh karena isinya bertambah maka timbul kontraksi untuk mengeluarkan isinya. Demikian puladengan rahim, maka dengan majunya kehamilan makin teregang otot-otot rahim makin rentan
4.     Pengaruh janin
Hypofise dan kelenjar suprarenal janin rupa-rupanya memegang peranan oleh karena pada anenchephalus kehamilan sering lebih lama dari biasa.
5.     Teori prostaglandin
Prostaglandin yang dihasilkan oleh decidua, disangka menjadi salah satu permulaan persalinan.
D.    IV Kala Dalam Persalinan
Menurut JHPIEGO, (2007) , persalinan dibedakan menjadi 4 kala yaitu :
1.     Kala I
Kala I perslinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus yang teratur dan meningkat (frekuensi dan kekuatannya) hingga serviks membuka lengkap (10cm). Kala I persalinan terdiri atas 2 fase yaitu fase laten dan fase aktif.
a.     Fase laten
Dimulai sejak awal kontraksi menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks secara bertahap, berlangsung hingga servisk membuka <4 cm, berlangsung hampir atau hingga 8 jam
b.     Fase aktif
Dari pembukaan 4-10 cm, akan terjadi dengan kecepatan rata-rata 1 cm/ jam (nulipara) atau lebih dari 1 cm hingga 2 cm (multipara)
2.     Kala II
Dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala dua juga disebut sebagai kala pengeluaran bayi.
Tanda dan gejala kala  II antara lain :
a.     Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi
b.     Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada rektum/ vagina
c.     Perineum menonjol
d.     Vulva, vagina dan sfingter ani membuka
e.     Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah
3.     Kala III
Dimulai dari lahirnya bayi sampai lahirnya plasenta
4.     Kala IV
Ialah masa 2 jam setelah plasenta lahir
E.     Mekanisme Persalinan
Menurut bagian Obsteri dan Ginecologi FK UNPAD, (1983), mekanisme persalinan antara lain :
1.     Turunnya kepala
Turunnya kepala  terbagi dalam :
a)    Masuknya kepala dalam pintu atas panggul
Masuknya kepala ke dalam pintu atas panggul pada primigravida sudah terjadi bulan terakhir dari kehamilan. Tetapi pada multipara biasanya baru terjadi pada permulaan persalinan. Masuknya kepala kedalam PAP dibagi menjadi 2 yaitu :
1)     Synclitismus
Kalau sutura sagitalis terdapat ditengah-tengah kjalan lahir, ialah tepat diantara symfisis dan promontorium
2)    Asynclitismus
(a)   Asynclitismus posterior
Ialah kalau sutura sagitalis mendekati symfisis dan os parietal belakang lebih rendah dari os parietal depan
(b)  Asynclitismus anterior
Ialah sutura sagitalis mendekati promontorium sehingga os parietal depan lebih rendah dari os parietal belakang
b)    Majunya kepala
Pada primigravida majunya kepala terjadi  setelah kepala amsuk kedalam rongga panggul dan biasanya baru mulai pada kala II. Pada multipara sebaiknya majunya kepala dan masuknya kepala dalam rongga panggul terjadi bersamaan
2.     Fleksi
Dengan majunya kepala biasanya juga fleksi bertambah hingga ubun-ubun kecil jelas lebih rendah dari ubun-ubun besar. Fleksi ini disebabkan karena anak didorong maju dan sebaliknya mendapat tahanan dari pinggir pintu atas panggul, cerviks, dinding panggul atau dasar panggul. Akibat dari kekuatan ini ialah terjadinya fleksi karena moment yang menimbulkan fleksi lebih besar dari moment yang menimbulkan defleksi.
3.     Putaran paksi dalam
Putaran paksi dalam ialah pemutaran dari bagian depan sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari bagian depan memutar ke depan ke bawah symphisis. Sebab-sebab putaran paksi dalam :
a.       Pada letak fleksi, bagian belakang kepala merupakan bagian terendah dari kepala.
b.       Bagian terendah dari kepala ini mencari tahanan yang paling sedikit terdapat sebelah depan atas dimana terdapat hiatusgenetalis antara musculus levator kiri dan kanan.
c.        Ukuran terbesar dari bidang tengah panggul ialah diameter anteroposterior.
4.     Ekstensi
Karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul mengarah kedepan dan atas, sehingga kepala harus mengadakan extensi untuk melaluinya. Subocciput yang menjadi pusat pemutaran disebut hypomochlion.
5.     Putaran paksi luar
Setelah kepala lahir, maka kepala anak memutar kembali ke arah punggung anak untuk menghilangkan torsi pada leher yang terjadi karena putaran paksi dalam
6.     Ekspulsi
Setelah putaran paksi luar, bahu depan sampai dibawah symphisis dan menjadi hypomochlion untuk kelahiran bahu belakang. Kemudian bahu depan menyusul dan selanjutnya seluruh badan anak lahir searah dengan paksi jalan lahir.
F.     Faktor Penting Dalam Persalinan
Menurut Manuaba, (1998) faktor-faktor penting dalam persalinan antara lain :

1.     Power
a.     His (kontraksi otot rahim)
b.     Kontraksi otot dinding perut
c.     Kontraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan
d.     Ketegangan dan kontraksi ligamentum rotundum
2.     Passanger (janin dan plasenta)
3.     Passage (jalan lahir lunak dan jalan lahir tulang)
G.    Asuhan Sayang Ibu
Asuhan sayang ibu adalah asuhan yang menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang ibu (JHPIEGO, 2007)
Menurut sumarah, dkk (2009) yang merupakana asuhan sayang ibu adalah
1.     Pendampingan keluarga
2.     Libatkan keluarga
3.     KIE proses persalinan
4.     Dukungan psikologi
5.     Membentu ibu memilih posisi
6.     Cara meneran
7.     Pemberian nutrisi
H.    Kebutuhan Ibu selama Persalinan
 Menurut Sumarah, dkk (2009) kebutuhan ibu selama persalinan antara lain :
1.     Kebutuhan fisiologis
a.     Oksigen
b.     Makan dan minum
c.     Istirahat selama tidak ada his
d.     BAB dan BAK
e.     Pertolongan persalinan yang terstandar
2.     Kebutuhan rasa aman
a.     Memilih tempat dan penolong persalinan
b.     Informasi tentang proses persalinan
c.     Posisi tidur yang dikehendaki ibu
d.     Pendampingan oleh keluarga
e.     Pemamntauan selama persalinan
f.     Intervensi yang diperlukan
3.     Kebutuhan mencintai dan mencintai
a.     Pendampingan oleh suami/ keluarga
b.     Kontak fisik (memberi sentuhan ringan)
c.     Masase untuk mengurangi rasa sakit
d.     Berbicara dengan suara yang lembut dan sopan
4.     Kebutuhan harga diri
a.     Merawat bayi sendiri dan menetekkan
b.     Asuhan kebidanan dengan memperhatikan privasi ibu
c.     Pelayanan yang bersifat simpati dan empati
d.     Informasi bila akan emlakukan tindakan
e.     Memberikan pujian pada ibu terhadap tindakan positif yang ibu lakukan
5.     Kebutuhan aktualisasi diri
a.     Memilih tempat dan epnolong persalinan yang diinginkan
b.     Memilih pendamping selama perslinan
c.     Bounding attachment
d.     Ucapan selamat atas kelahiran bayinya
I.     Persiapan Persalinan
Menurut Depkes RI, (2011), persiapan persalinan meliputi antara lain :
1.     Tanyakan kepada bidan atau dokter tanggal perkiraan persalinan
2.     Siapkan tabungan untuk biaya persalinna
3.     Suami, keluarga dan masyarakat menyiapkan kendaraan jika sewaktu-waktu diperlukan
4.     Rencana melahirkan ditolong oleh bidan atau dokter di fasilitas pelayanan kesehatan
5.     Rencana ikut KB, tanyakan caranya kepada petugas kesehatan
6.     Siapkan orang yang bersedia menjadi donoor darah jika aewaktu-waktu diperlukan
J.    58 Langkah Asuhan persalinan Normal
I.       Tanda Dan Gejala Kala Dua
1.     Mendengar dan melihat adanya tanda persalinan kala dua
a)       Ibu mempunyai dorongan kuat untuk meneran
b)       Ibu merasa adanya tekanan pada anus
c)       Perineum menonjol
d)       Vulva dan anus membuka
II.    Menyiapkan Pertolongan persalinan
2.     Memastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esennsial untuk menolong persalinan dan menatalaksanakan komplikasi ibu dan bayi baru lahir.
3.     Memakai celemek plastic
4.     Memastikan lengan / tangan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir
5.     Memakai sarung tangan DTT pada tangan kanan yang di gunakan untuk periksa dalam
6.     Mengambil alat suntik sekali pakai dengan tangan kanan, isi dengan oksitosin dan letakkan kembali kedalam wadah partus set. Bila ketuban belum pecah, pinggirkan ½ kocher pada partus set
III.  Memastiakan Pembukaan Lengkap Dam Keadaan Janin Baik
7.   Membersihkan vulva dan perineum menggunakan kapas DTT (basah) dengan gerakan dari vulva ke perineum (bila daerah perineum dansekitarnya kotor karena kotoran ibu yang keluar, bersihkan daerah tersebut dari kotoran)
8.   Melakukan pemeriksaan dalam dan pastikan pembukaan sudah lengkap dan selaput ketuban sudah pecah.
9.   Dekontaminasi sarung tangan kedalam larutan klorin 0,5%, membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%
10.     Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai pastikan DJJ dalam batas normal (120-160 x/menit)
IV.    Menyiapkan Ibu Dan Keluarga Untuk Membantu Proses Pimpinan Meneran
11.     Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, meminta ibu untuk meneran saat ada his, bila ia sudah merasa ingin meneran
12.    Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran, (pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setelah duduk dan pastikan ia merasa nyaman)
13.    Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran
a.     Memimpin ibu untuk meneran saat ibu timbul his, menyesuaikan pimpinan meneran dengan kecepatan lahirnya kepala
b.     Mendukung usaha ibu untuk meneran
c.     Memberi ibu kesempatan istirahat disaat tidak ada his (diantara his)
d.     Meminta bantuan keluarga untuk memberi ibu minum saat istirahat
e.     Memeriksa DJJ setiap kontraksi uterus selesai
14.   Anjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok, atau mengambil posisi yang nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit
V.      Persiapan Pertolongan Kelahiran Janin
15.   Letakkan handuk bersih diperut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulab dengan diameter 5-6 cm
16.   Mengambil kain bersih, melipat 1/3 bagian dan meletakkannya dibawah bokong ibu
17.   Membuka tutup partus set
18.   Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan
VI.    Menolong Kelahiran Bayi
Lahirnya Kepala
19.   Setelah tampak kepala dengan diameter 5-6 cm membuka vulva maka lindungi perineum dengan satu tangan
20.  Periksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat
21.   Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putaran paksi luar secara spontan
Lahirnya Bahu
22.  Setelah kepala melakukan putar paksi luar, pegag secara biparietal, anjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi
Lahirnya Badan Dan Tungkai
23.  Setelah kedua bahu lahir, geser tanganbawah kearah perineum ibu untuk menjaga kepala, lengan, dan siku sebelah bawah
24.  Setelah badan dan lengan lahir, lakukan sangga susur
VII.     Penanganan Bayi Baru Lahir
25.  Lakukan penilaian (selintas)
26.  Segera mengeringkan bayi, membungkus kepala dan badan bayi kecuali bagian tali pusat
27.  Pastikan janin tunggal
28.  Beritahu ibu bahwa penolong akan menyuntikkan oksitosin
29.  Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir suntikkan oksitosin 10  UI IM
30.  Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari umbilicus bayi. Melakukan urutan tali pusat ke arah ibu dan memasang klem diantara kedua 2 cm dari klem pertama.
31.   Memegang tali pusat diantara 2 klem menggunakan tangan kiri, dengan perlindungan jari-jari tangan kiri, memotong tali pusat di antara kedua klem. Bila bayi tidak bernafas spontan lihat penanganan khusus bayi baru lahir
32.  Lakukan IMD
33.  Selimuti ibu dan bayi dengan kain, pasang topi di kepala bayi
VIII.  Manajemen Aktif Kala III
Lakukan PTT
34.    Pindahkan kllem pada tali pusat 5-10 cm dari vulva
35.    Atur posisi
36.   Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat ke arah bawah sambil tangan lain mendorong uterus ke arah belakang atas (dorso kranial)
Plasenta
37.  Apabila plasenta sudah lepas maka lakukan penarikan secara perlahan
38.  Saat plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan plasenta dengan kedua tangan, putar searah jarum jam
39.  Lakukan masase
             IX.     Memeriksa Kemungkinan Adanya Perdarahan Pasca Persalinan
40.   Sambil tangan kiri melakukan masase pada fundus uteri, periksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan kanan untuk memastikan bahwa seluruh kotelidon dan selaput ketuban sudah lahir lengkap, dan memasukkan ke dalam kantong plastik yang tersedia
a.     Bila plasenta tidak lahir lengkap atau tidak ada perdarahan, lakukan tindakan sesuai prosedur
b.     Bila kontraksi uterus tidak baik setelah 15 detik melakukan masase, mulai, komperesi bimanual interna (melihat penanggulangan atonio uteri)
41.   Memeriksa apakah ada robekan pada introitus vagina dan perenium yang menimbulkan perdarahan aktif. Bila ada robekan yang menimbulkan perdarahan aktif, segera lakukan penjahitan
                  X.    Asuhan Pasca Persalinan
42.  Periksa kembali kontraksi uterus dan tanda adanya perdarahan pervaginam, pastikan kontraksi uterus baik
43.  Beri cukup waktu untuk melakukan kontak kulit ibu bayi ( didada ibu paling sedikit 1 jam.
44.  Lakukan penimbangan / pengukuran bayi, beri tetes mata antibiotic profilaksis dan vitamin K1 1 mg intramuscular di paha kiri anterolateral setelah satu jam kontak kulit ibu bayi.
45.  Berikan suntikan imunisasi Hepatitis B (setelah satu jam pemberian vitamin K1 ) di paha kanan anterolateral.
             XI.     EVALUASI
46.  Lanjutkan pemantauan terhadap kontraksi uterus, tanda perdarahan pervaginam dan tanda vital ibu:
a.     2-3 kali dalam menit pertama
b.     Setiap 15 menit pada 1 jam pertama Pastikan kontraksi
c.     Setiap 20-30 menit pada jam ke dua uteri Bila kontraksi uterus tidak baik, lakukan masase uterus dam beri metal ergometrin 0,2 mg IM
47.  Mengajarkan ibu/keluarga untuk memeriksa uterus yang memiliki kontraksi baik dan mengajarkan masase uterus apabila kontraksi uterus tidak baik.
48.  Mengevaluasi jumlah perdarahan yang terjadi
49.  Memeriksa nadi ibu dan kandung kencing setiap 15 menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam ke 2 pasca persalinan
50.  Observasi KU bayi
           XII.     Kebersihan Dan Keamanan
51.   Merendam semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5 % dengan posisi terbuka
52.  Membuang barang-barang yang terkontaminasi ke tempat sampah yang di sediakan
53.  Membersihkan ibu dari sisa air ketuban, lendir dan darah dan menggantikan pakaiannya dengan pakaian bersih/kering
54.  Memastikan ibu merasa nyaman dan memberitahu keluarga untuk membantu apabila ibu ingin minum
55.  Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%
56.  Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%
57.  Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
58.  Melengkapi partograf dan memeriksa tekanan darah






DAFTAR PUSTAKA

KepMenKes RI No 369/ MenKes/ SK/ III/ 2007 Tentang Standar Profesi Bidan
Bagian Obstetri dan Ginecologi FK UNPAD. 1983. Obstetri Fisiologi. Bandung : Elemean
JHPIEGO. 2007. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta: Depkes RI
Manuaba, I Gede. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencanan. Jakarta : EGC.
Sumarah, dkk. 2009. Perawatan Ibu Bersalin (Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin). Yogyakarta : Fitramaya
Muslihatun, dkk. 2009. Dokumentasi Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya
DepKes RI. 2011. Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Depkes RI dan JICA (Japan International Cooperation Agency)
Alimul, Hidayat. 2008. Konsep Kebidanan. Jakarta : Mitra Cendekia


No comments:

Post a Comment

Post a Comment